Jumat, 22 Agustus 2008

Partai Golput


Partai Golput

oleh Tedi Kusyairi

Saya juga pernah merasakan menjadi anggota partai "golput", ketika dalam pandangan saya tidak ada partai dan caleg yang mungkin mampu memenuhi keinginan saya, maka saya gunakan hak untuk tidak memilih. Namun dikemudian waktu saya berpikir, kenapa tidak bersimpatisan kepada partai atau caleg yang mendekati kebaikan? Maka saya melakukannya. Namun ketika kedekatan saya tersebut akhirnya tidak dapat merubah suatu kondisi yang saya harapkan, maka saya berpikir untuk mencoba masuk kedalamnya.

Memang sangat berlawanan dengan prinsip saya dulu, (hal ini dapat ditanyakan kepada sang ketua Partai Pelopor Bantul, sdr. Bardikari). Saya termasuk orang yang tidak suka politik, dan hanya mempelajari politik sebagai wacana/pengetahuan teoritik belaka. Namun kenyataannya tidak demikian dengan para generasi "tua" di masyarakat kita. Yang lucu, ternyata hampir dalam berbagai hal/kegiatan, kemudian segala sesuatu dipolitisir, walaupun sesederhana mungkin, saya jadi muak pada aknum-oknum (meminjam istilah Kepolisian), ketika hal-hal kecil saja dipolitisir.

Perjalanan saya dari bangku kuliah di Filsafat UGM, sembari mengajar ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja, Majalah Dinding, Majalah Pelajar, Pramuka dan Pecinta Alam di SMA Negeri 2 Bantul, serta berbagai kegiatan lain di luarnya memberikan pelajaran berbagai benturan "yang politis" bagi orang awan seperti saya, secara tidak langsung saya menyadarinya dan merasakan. Ketika kebebasan saya untuk menyalurkan aspirasi kepada partai yang saya beri "simpati" juga tidak mengcover maksud pikiran saya, kemudian saya sempat bergabung dengan berbagai LSM di Yogyakarta, sebut saja yang paling Fenomenal adalah SAPPURATA (Solidaritas Pemuda Pelajar Peduli Orang Tua) yang pada tahun 2006 pasca gempa membuat heboh dengan aksi somasinya kepada beberapa sekolah.

Nah, benturan politis terjadi kembali, saya harus berhenti mengajar di sekolah tersebut (tidak dipakai lagi, entah dengan pertimbangan apa?) nasib saya belum berhenti, mengingat LSM tempat saya berkiprah juga menjadi kurang kondusif untuk kemajuan saya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Sekian lama tanpa aktifitas yang cukup berarti, kembali ke sawah, membantu pekerjaan orang tua saya di kampung, sebagai petani, walaupun tidak harus hardwork, hal tersebut cukup menghibur dan membantu mengembalikan saya pada atmosfer membaca dan menulis disela-sela waktu agar otak tidak menjadi beku.

Perjalanan di mulai kembali ketika beberapa komunitas seni baik teater maupun sastra menghubungi saya untuk bergabung, saya kembali menggeliat dan bergerak.

Sdr. Bardikari-lah yang kemudian membuka jalan baru bagi saya, memberikan opsi bagi jalan politik saya. Beliau bilang, bergabung dalam partai politik tidak ada ruginya untuk mengubah keadaan negeri menjadi lebih baik. Kemudian saya sempat berfikir. Memang realitasnya, tidak ikut pemilu, tidak ikut partai, diam dan tidak ikut-ikutanpun, sama saja, diri kita tetap di klaim oleh orang lain yang berkuasa, tetap mendapatkan pengaruh dari pusara politik yang ada. Begitupun ketika mengikuti LSM dan berbagai organisasi yang ada. Sama, yang diurusi akhirnya juga bersentuhan dengan dunia politik. Maka ajakan Sdr. bardikari untuk turut dalam partai yang dipimpinnya saya iyakan. Mula-mula saya hanya berniat membantu apa yang saya bisa, namun perkembangan waktunya banyak yang membuat saya menjadi senang berkegiatan, dan akhirnya tawaran partai PELOPOR untuk saya agar mencalegkan ke tingkat DPRD Provinsi saya sanggupi.

Saya sadar, hal ini adalah berat bagi saya, tapi semua harus diupayakan, bukan hanya menyerah begitu saja. Setidaknya saya harus banyak belajar untuk hal tersebut, karena saya orang baru dalam kepartaian. Namun demikian saya berusaha untuk belajar dan terus menyuarakan aspirasi rakyat. Apakah saya tidak demo lagi atau melakukan kegiatan lainnya sebagai bagian dari masyarakat yang kritis? Tentu demo dan kegiatan kritis harus tetap saya jaga, ketika aspirasi rakyat dan aspirasi saya terbentur, dan tidak bisa disuarakan.

Ini sebuah proses bagi saya, untuk belajar. Dan ini adalah sebuah jalan menuju perubahan menuju yang lebih baik bagi masyarakat Bantul, begitulah harapan dan perjuangan yang ingin saya lakukan. Maka saya sangat mengharapkan banyak saran, kritik, bantuan, dukungan dan segala hal demi tujuan tersebut.

Bagi Anggota Partai Pelopor, Simpatisan Partai Pelopor dan Kawan-kawan saya di berbagai organisasi dan LSM, para aktivis dan semuanya, masyarakat di Bantul dapat menyampaikan aspirasi, saran, kritik, bantuan dan dukungannya kepada saya melalui web site www.peloporbantul.blogspot.com dan email:peloporbantul@gmail.com atau handphone 08562899103.

Aspirasi, bantuan dan dukungan juga dapat disampaikan di
Sekretariat DPC Partai Pelopor Bantul
Sdr. Bardikari, Dusun Jeblog Tirtonirmolo Kasihan Bantul 081392513438
atau sekretariat BAPILU Partai Pelopor Bantul
Sdr Suroso, Diro Kulon Pendowoharjo Sewon Bantul

Ingat kata Soekarno Revolusi belum selesai!

Kataku, "Perjuangan untuk membangun pondasi yang kuat bagi Kemrdekaan, harus terus diupayakan dengan lebih kuat lagi". Saya tunggu Partisipasi Kawan Semua, Masyarakat Bantul yang peduli bagi kemajuan negeri ini!

Salam Demokrasi!
Tedi Kusyairi

Tidak ada komentar: